Kiss of an Angel

That you are young is enough to make me love you very much.

There can be no virtue without obedience.

We must, each of us, be willing to sacrifice our own will, even at a heavy cost...The sacrifice that is needed is the sacrifice of the will.

Everyone invited

"If we do not give them something to think about their minds will turn to unwholesome thoughts."

"Act today in such a way that you need not blush tomorrow."

"Direct every action to the Lord by saying, “Lord, I offer You this work, please bless it.”"

"If you wish to fly high, start from the bottom.

I would like to stress good health, good moral conduct and serious studies. Health is a precious gift; take good care of it..

Monday, 22 April 2013

Marilah dan Sarapanlah



 Minggu paskah III

Sebagai Romo sering mengalami hal ini bila merayakan misa di susteran. Biasanya para suster misa pagi sekali karena mereka harus segera pergi ke tempat tugasnya masing-masing. Mereka selalu mengundang Romo yang merayakan Ekaristi untuk makan bersama mereka kadang sampai ada yang tersinggung kalau saya menolak untuk ikut sarapan, karena memang ada kegiatan lain yang harus saya lakukan. Yesus mengundang para rasulnya dengan ajakan “Marilah dan sarapanlah”. Ajakan para suster dari berbagai komunitas itu sama dengan ajakan Yesus untuk mengalami Ekaristi yang lebih nyata berbagi santapan yang kadang disertai berbagi pengalaman hidup yang saling memperkaya untuk menghayati Ekaristi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Ekaristi dirayakan setiap pagi kita sungguh mengalami seperti para rasul yang mendapat ajakan dari Yesus :”Marilah sarapanlah”. Hebatnya santapan yang kita terima tiada duanya, adalah Tubuh dan Darah Yesus sendiri yangat jelas tujuanya yaitu biasanya diulang dalam doa konsekrasi:“Makanlah inilah Tubuhku yang diserahkan bagimu”. Lalu dilanjutkan:”Minumlah inilah Darahku darah perjanjian baru dan kekal yang diserahkan bagimu untuk pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Inilah inti dan makna setiap perayaan Ekaristi kita diundang untuk menyantap Tubuh dan Darah Kristus.. Santapan ini memberi kekuatan yang menyelamatkan bagi kita. Seperti undangan Yesus :” Marilah dan sarapanlah” kepada para rasul yang kelelahan karena semalaman bekerja keras menangkap ikan, kita sering kelelahan menjalani kesibukan hidup kita sehari-hari mendapat undangan yang sama.

Ajakan Yesus ini kita dengarkan dalam masa Paskah, saat kita merayakan hari raya kebangkitan. Undangan istimewa ini dikatakan oleh Yesus yang sudah bangkit, artinya kita diajak merasa dan mengalami kebangkitan bersama Kristus. Maka kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bagi kita, bukan karena kita orang baik sehingga pantas menerima ajakan itu. Ajakan Kristus melulu anugerah dan rahmat Tuhan bagi kita semua. Tawaran ini menjadi lebih jelas lagi dalam ajakan sebelum kita menyambut komuni. “ Inilah anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanya”, kemudian umat menjawab:”Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”. Menjadi sangat jelas ajakan ini merupakan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita semua untuk mengalami kesembuhan dalam hidup.  Terutama kesembuhan dari dosa “ diserahkan bagimu demi pengampunan dosa”.

Undangan Yesus dalam injil hari ini: “Marilah dan sarapanlah” merupakan contoh kemurahan hati kepada orang lain yang membutuhkan. Dalam kisah injil para rasul sedang kelaparan dan perlu makanan, maka Yesus dengan murah hati mengajak mereka untuk bersarapan. Maka pantas juga kita memiliki keberanian untuk memberikan diri kita, milik kita, kemampuan kita bagi orang lain yang membutuhkannya. Di dalam keluarga kita, di komunitas kita, di tempat kerja kita tapi juga dalam lingkungan masyarakat kita. Marilah kita wujudkan dalam kehidupan kita untuk saling mengasihi satu sama lain dengan penuh kemurahan hati seperti Hati Kudus Yesus yang penuh cintakasih kepada manusia. Seperti para rasul yang menawarakn keselamatan dalam pewartaan mereka “ Dialah yang ditinggikan Allah sendiri dengan tangan kanannya menjadi pemimpin dan penyelamat, supaya Isrel bertobat dan menerima pengampunan dosa”. Dengan begitu kita bisa berseru dengan pemazmur:”aku henadak memuji namaMu ya Tuhan selama-lamanya”. Karena kita menyambut undangan Yesus “marilah dan sarapanlah”. (by F.Matius Sudiantoro, SDB)

Ya Tuhanku dan Allahku



 Minggu Paskah II

Ini merupakan ungkapan Thomas untuk menyatakan imannya setelah Yesus menampakan diri kepadanya bersama rasul lainya. Yesus menambahkan” Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”. Kalimat ini lebih untuk kita semua, karena memang tidak pernah melihat Yesus secara langsung seperti Thomas yang bisa menyentuh bekas luka dalam diri Yesus. Tapi kita bisa percaya kepada Yesus yang telah bangkit untuk keselamatan kita manusia yang percaya kepadaNya. Memang syarat untuk bisa diselamatkan oleh Yesus adalah kita harus percaya kepadaNYa. Maka pernyataan iman Thomas ini seharusnya juga menjadi pernyataan iman kita seutuhnya. Yang percaya kepada Yesus yang telah bangkit sumber keselamatan kita.

Dalam kalimat “Ya Tuhanku dan Allahku” terkandung iman yang sangat dalam, yaitu ada penyerahan diri secara total kepada Tuhan Allah yang kita percayai akan memberikan keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kebahagiaan itu akan terwujud hanya kalau kita sungguh menyadari dan mengalami seperti yang kita nyanyikan dalam mazmur hari ini: “Bersyukurlah kepada Tuhan, karena baiklah Dia”. Orang akan bisa bahagia ketika mereka bisa bersyukur atas anugerah hidup yang diberikan kepadanya dalam segala suka-dukanya. Ini perlu belajar tahap demi tahap: pertama, bersyukur atas segala yang baik yang telah diterima dalam hidupnya. Kedua, bersyukur atas segala yang baik yang diterima orang lain dan ini lebih sulit karena kadang bisa muncul iri hati. Ketiga, ini sangat sulit untuk bisa bersyukur atas segala hal yang kurang baik bahakn yang tidak baik yang terjadi dalam dirinya. Harus belajar dalam proses hidup cukup lama. Mungkin bisa kita membandingkan dengan obat yang tidak enak rasanya tapi itu untuk kesehatan kita.


“Ya Tuhanku dan Allahku” juga menjadi pernyataan kita baik dalam hati atau diungkapkan dalam perayaan Ekaristi pada saat konsekrasi. Karena pada saat itu roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah kristus sehingga sudah seharusnya kita mengalami seperti Thomas yang berlutut dan berseru “Ya Tuhanku dan Allahku”. Inilah mujizat terbesar yang bisa kita alami setiap merayakan Ekaristi. Mujizat ini terjadi melalui kata-kata yang diucapkan oleh orang berdosa seperti yang lainya tapi mendapat anugerah kuasa yang tiada terkira besarnya yaitu seorang imam yang menerima tahbisan imamat. Kuasa untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus tidak Tuhan berikan kepada para malaikat di surga. Bahkan Bunda Maria yang suci dan tak bernoda tidak dianugerahi kuasa ini. Hanya dengan iman seperti Thomas kita bisa percaya akan mujizat Tuhan.

Tahun ini sebagai Gereja universal kita masih menjalankan Tahun Iman. Maka pantaslah pernyataan St. Thomas ini menjadi pedoman bagi kita untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman. Gereja KAJ sudah mulai mau mewujudkan iman itu secara nyata dalam kehidupan sehingga sudah memulai Tahun ini sebagai Tahun Persaudaraan. Karena di dalam Yesus yang telah bangkit itu kita semua sebagai saudara. Ini terungkap dalam bacaan pertama “semua orang beriman selalu berkumpul dalam serambi Salomo dalam persekutuan yang erat”. Inilah persaudaraan yang hendak kita wujudkan sebagai bentuk nyata kita beriman kepada Kristus yang telah bangkit. Maka tema APP kita “ makin beriman, makin bersaudara, makain berbelarasa” seharusnya tidak selesai setelah perayaan Paskah, tetapi terus berlanjut dalam seluruh kehidupan kita. Supaya sabda Yesus “ Orang akan mengenal kamu sebagai muridku jika kamu hidup saling mengasihi satu sama lain”. Ini merupakan perwujudan nyata iman st Thomas “ Ya Tuhanku dan Allahku” yang akan terus kita hayati dalam keseluruhan hidup kita sekarang dan selamanya. Amin. (by F.Matius Sudiantoro, SDB)

Mari Kita Rayakan Dengan gembira


                                                                                                       PERJALANAN MENUJU KEBANGKITAN DALAM LITURGI PEKAN SUCI

Pada hari ini Tuhan bertindak. Mari kita rayakan dengan gembira. Inilah bunyi refren mazmur antar bacaan yang kita nyanyikan hari ini. Kita diajak untuk merayakan kebangkitan Kristus dengan gembira. Dalam kisah para rasul para murid memberikan kesaksian akan Kristus yang telah bangkit. Mereka mendapat berbagai macam ancaman tapi tidak  lagi mengalami ketakutan karena mereka percaya kepada Kristus yang telah bangkit. Maka pantaslah kita merayakan hari ini dengan gembira dan penuh sukacita. Para murid berani mewartakan kristus yang telah bangkit yang menjadi sumber kegembiraan dan sukacita.

Paskah dari bahasa ibrani Pessah artinya lewat. Dalam perjanjian lama bangsa Israel melewati berbagai rintangan dalam perjalanan menuju tanah terjanji, terutama ketika mereka bisa melewati laut merah yang terbelah oleh tongkat Musa. Bagi kita paskah adalah lewat dari kematian menuju kebangkitan, dan yang membuka jalan menuju kebangkitan adalah Kristus yang telah bangkit. Dialah yang menjadi jaminan bagi kebangkitan kita. Maka kita bisa bergembira samabil menyanyi bersama pemazmur” Pada hari ini Tuhan bertindak. Mari kita rayakan dengan gembira”. Dan juga membawa kegembiraan itu bagi sesama kita dimanapun kita berada.

Kebangkitan Kristus adalah hari raya kebebasan, manusia dibebaskan dari kuasa dosa, iblis dan kematian. Kebebasan biasanya memang menggembirakan dan membuat kita bersukacita. Maka kabar ini sering kita sebut sebagai injil artinya kabar gembira. Kebangkitan Kristus ini adalah kabar gembira yang harus kita wartakan. Dan inilah inti iman kita ada dalam kebangkitan Kristus dari alam maut. Sehingga ajakan dalam tema APP kita sangat relevan: makin beriman, makin bersaudara, makin berbela rasa. Kita beriman pada kebangkitan Kristus, dan iman yang benar akan membawa kita pada persaudaraan sejati. Kita semua adalah saudara dalam Yesus Kristus, Dia adalah Putera sulung dan dalam Yesus kita semua adalah anak-anak Allah. Sebagai saudara tentu kita juga akan memiliki belarasa maka kita mau mebagikan kabar sukacita ini bagi sesama kita.


Mari kita rayakan dengan gembira dalam kehidupan kita upaya kita untuk semakin beriman, makin bersaudara dan makin berbelarasa. Dengan semangat Kristus yang kasihNya tanap batas marilah kita membagikan kasihnya yang sudah kita terima dalam hidup kita. Seperti para murid yang menjadi saksi kebangkitan diminta mewartakannya samap ke ujung bumi, sekarang ini menjadi tugas kita, menjadi pewarta injil kabar gembira. Kabar gembira ini harus kita wartakan dalam keseharian hidup kita. Artinya setiap kali kita hadir harusnya membuat orang bersukacita. Karena kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama. Dalam sengsara dan kebangkitannya kita tidak bisa melupakan keberadaan Bunda Maria. Yang dalam doa setiap hari kita serukan “ salam Maria penuh rahmat” marilah kita juga berseru dan mohon supaya kita masing masing menjadi penuh rahmat, supaya kita bisa menjadi rahmat dan berkat bagi sesama dalam seluruh kehidupan kita. Sehingga sekali lagi kita bisa berseru:” Mari kita rayakan dengan gembira”. 
(by.F. Matius Sudiantoro, SDB)

Saturday, 30 March 2013

Kristus Bangkit, Alleluia!



 PERJALANAN MENUJU KEBANGKITAN DALAM LITURGI PEKAN SUCI



Puncak perayaan terbesar adalah Hari Raya Kebangkitan Kristus. Malam Paskah dirayakan dengan sangat meriah, bila semua dibacakan kita akan mendengarkan 9 bacaan dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mulai dari kisah penciptaan sampai puncaknya adalah kebangkitan Kristus. Perayaan Paskah ini diawali dengan Pekan Suci dan dilanjutkan dengan oktaf Paskah. Maka secara meriah dalam Gereja dirayakan selama dua minggu perayaan paskah ini. Pada malam Paskah ini lagu Alleluia mulai dinyanyikan kembali setelah dihentikan sejak rabu abu dalam masa tobat. Artinya malam ini pada hari raya kebangkitan Kristus kita boleh bersukacita memuji Tuhan, bukan hanya boleh tetapi ada keawajiban bagi kita untuk memuji Tuhan yang telah bangkit dengan lagu Alleluia.

Lagu mazmur pertama setelah kisah penciptaan adalah “ Aku wartakan karya agungMu Tuhan karya agungmu karya keselamatan”.  Kebangkitan Kristus adalah jaminan keselamatan bagi kita. Santo Paulus menyebut Yesus sebagai buah sulung dan kita akan mengikutinya.   Kita juga diminta untuk mewartakan kabar keselamatan ini bagi sesama kita. Perayaan malam Paskah diawali dengan menyalakan lilin Paskah yang menjadi simbol bahwa Kristus adalah sang terang yang telah mengalahkan kegelapan hidup umat manusia. Sekarang terang Kristus sudah menyala dalam kehidupan manusia. Sebelum mendengarkan injil tentang kebangkitan kita akan bersama-sama menyanyikan lagu Alleluia dengan sangat meriah. Allelui merupakan lagu pujian untuk memuliakan Allah yang telah bangkit.


Kebangkitan Kristus ini merupakan kemenangan cintaksih yang begitu besar terhadap kuasa dosa, iblis dan kematian. Yang selalu menebar ancaman dan ketakutan pada manusia, tetapi kebangkitannya membuat manusia mempunyai jaminan dalam kehidupannya yang penuh berkat dan cintaksih Tuhan. Karya keselamatan dalam kebangkitan inilah yang harus kita wartakan kepada sesama kita supaya bisa menerima keselamtan dari Kristus. Tanda nyata ada keselamatan biasanya juga ada pembatisan dalam perayaan ini, kalau tidak ada pembabtisan kita akan membaharui janji babtis kita untuk menegaskan kembali bahwa kita sudah menerima keselamatan dari Kristus yang telah bangkit dari mati.

Kata-kata malaikat” Mengapa kamu mencari yang hidup di antara orang mati? Dia tidak ada di sini, Dia sudah bangkit. Ingatlah perkataanya yang telah disampaikanya kepadamu: Putera manusia harus diserahakan ke tangan orang berdosa, disalibkan dan bangkit dari mati”. Itulah kenyataan kebangkitan yang diwartakan oleh para malaikat kepada para murid Yesus yang mencarinya. Dan kebangkitan ini merupakan jaminan keselamatan kita sehinga kita mempunyai alasan untuk bergembira dan bersukacita karena mengalami kasih Allah yang begitu besar. Karya keselamatan itu kita rayakan pada malam ini. Sengasara wafat dan kebangkitan Yesus selalu dihadirkan kembali dalam setiap perayaan Ekaristi yaitu Yesus yang memberikan diriNya untuk keselamatan umat manusia. Malam Paskah ini kita merayakannya dengan sangat meriah kemenangan Kristus untuk menyelamatkan kita. (by. F. Matius Sudiantoto,SDB)

Pasio Antusiasme Cinta Dalam Sengsara Menuju Kemuliaan

PERJALANAN MENUJU KEBANGKITAN DALAM LITURGI PEKAN SUCI
 
Perayaan jumat Agung secara istimewa dinyanyikan kisah sengsara Yesus yang terpanjang dari injil Yohanes. Secara gamblang kita melihat mendengar begitu dahyat penderitaan Yesus, mulai dari dikianati oleh muridnya sendiri sampai tak diakui oleh murid kepercayaanNya sebanyak tiga kali. Yesus diserahkan oleh muridnya kepada Kayafas imam kepala, Kayafas lalu menyerahkan Yesus kepada Pilatus, Pilatus menyerahkan Yesus kepada para algojo untuk dihukum mati dengan cara yang paling tidak manusiawi dalam tradisi romawi yaitu disalibkan. Tapi semua dijalankan Yesus dengan penuh cinta.

Dalam penderitaanya Yesus masih sempat berbuat kasih yakni menyembuhkan orang yang telinganya dipotong oleh Petrus. Bahkan di atas kayu salib masih sempat berdoa untuk para algojo yang menyalibkannya supaya Bapanya mengampuni mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Lalu juga masih memberi perhatian kepada ibunya yang diserahkan kepada Yohanes, tapi terlebih Dia menyerahkan Yohanes kepada ibunya supaya Yohanes juga mengalami keibuan Maria sebagai bunda yang penuh cinta. Di sini Yohanes mewakili kita semua diserahkan kepada pemeliharaan Bunda Maria. 

Sengsara Yesus yang akhirnya membawanya pada kematian di kayu salib dijalaninya dengan cinta yang penuh antusiasme. Yesus tidak mengeluh sedikitpun karena penderitaanya, karena Dia tahu itulah pengobanan yang harus dijalaninya untuk menyelamatkan manusia. Tak ada kasih yang lebih besar dari pada seorang yang memberikan nyawa untuk orang yang dicintainya, itulah yang dijalankan Yesus dalam sengsaranya sampai wafat di kayu salib. Karena cintakasih yang tanpa batas salib yang menjadi simbol kehinaan menjadi tanda kemenangan Kristus. Sengsara yang dijalaninya mengantar pada kemuliaan terutama bagi keselamatan manusia. Kemuliaan Allah bila manusia diselamatkan dan itulah yang diwujudkan dalam sengsara dan wafat Yesus yang kita rayakan dalam Jumat Agung ini.


Keselamatan ini ditawarkan kepada semua orang termasuk kita semua yang hadir dalam perayaan ini. Kehadiran kita menjadi seperti orng yang berteriak salibkan Dia atau kita hadir untuk menyambut keselamatan yang ditawarkan dalam Yesus. Pilihan ada pada kita masing-masing. Kita mengingat sudah menjadi muridnya tapi tidak otomatis sudah menerimanya dengan terbuka. Karena ada murid Yesus yang akhirnya menolaknya. Meskipun Yesus telah mengajarnya secara langsung dan mengalami bagaimana dicintai Yesus dalam hidupnya yaitu Yudas Iskariot. Tapi ada juga murid yang dengan setia menemaninya dalam segala suka dukanya yang muncul dalam diri Yohanes.

Marilah kita membuka diri kita untuk memberikan tempat kepada Tuhan yang datang untuk menebus kita lewat sengsara dan salibnya. Artinya hendaknya kita berani juga menghadapi kesulitan dan penderitaan. Siap untuk menderita demi keselamatan sesama kita. Memang perlu pengorbanan bila kita ingin mewujudkan kasih kita kepadaNya. Yesus sudah secara nyata bersaudara dengan kita manusia dan menyatakan belarasanya kepada manusia dengan mengalami sendiri sengsara dan wafat di kayu salib untuk keselamatan manusia.(by.F.Matius Sudiantoro, SDB)

Pembasuhan Kaki dan Korban Ekaristi

PERJALANAN MENUJU KEBANGKITAN DALAM LITURGI PEKAN SUCI



Paus Fransiskus memcuci kaki tahanan remaja: Kamis Putih
Malam ini kita akan diajak merenungkan betapa Yesus sungguh mencintai manusia sampai bersedia membasuh kaki murid-muridnya. Ini bukan hanya sekedar pelayanan bahwa Yesus mau merendahkan diri. Tetapi ada makna penebusan yaitu manusia dibersihkan dari segala dosa. Dan ini merupakan yang terpenting bahwa kita mengalami penebusan oleh Kristus, yang setelah pembasuhan kaki ini Dia akan mengorbankan diriNya untuk keselamatan umat manusia seluruhnya tanpa kecuali. Hanya manusia memiliki kebebasan untuk menerima penebusan ini atau menolaknnya. Bahkan diantara para muridnya ada yang menolaknya yaitu Yudas Iskariot yang mengkianati Dia.

Pengorbanan Kristus menjadi semakin nyata dalam perjamuan Ekaristi yang pertama dirayakanNya bersama para rasul. Perayaan ini bisa disebut sebagai perjamuan cintakasih. Disini Yesus menyatakan cinta sehabis-habisnya. Dia memberikan diriNya untuk menjadi santapan bagi umat manusia supaya memang bisa sungguh bersatu dengan manusia yang dicintainya secara total. Yesus tidak menyisakan sesuatu bagi dirinya. Semua diberikan sebagai perwujudan cintakasihNya yang tanpa batas kepada manusia. Semoga manusia mau terbuka untuk menerima cintaNya, tapi bisa juga sebaliknya menjadi seperti Yudas yang setelah perjamuan ini justru mengkhianati Yesus dan menjualnya untuk mendapat uang 25 keping perak. Jangan sampai kita juga menjual Yesus dalam kehidupan kita.

Sabda Yesus yang dicatat santo Paulus dalam suratnya yang kita dengarakn dalam bacaan kedua, selalu kita ulang dalam doa konsekrasi setiap kali kita merayakan Ekaristi”Inilah tubuhku yang diserahkan bagimu”. “ Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darahKu. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan daku”. Saat diulang sabda Yesus ini merupakan peristiwa terpenting dalam perayaan Ekaristi, karena di sinilah roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang akan menjadi santapan bagi kita. Mujizat terbesar yang boleh kita alami sebagai anugerah Allah dalam iman kepada Kristus. Dan peristiwa ini sungguh hanya bisa dimengerti dalam iman, memang untuk terjadinya mujizat perlu iman dari kita.

Para Imam saat menerima Sakramen Imamat
Dalam Ekaristi kita mengenang dua sakramen sebagai anugerah terbesar Allah kepada manusia meski sebetulnya tidak pantas menerimanya. Yaitu Sakramen Imamat dan Sakramen Ekaristi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ekaristi bisa dihadirkan kembali oleh seorang yang menerima pentahbisan imamat. Hanya seorang imam mendapat anugerah kuasa yang begitu besar diberi kemampuan untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kuasa yang para malaikat bahkan Bunda Maria yang suci dan tak bernoda tidak diberi kuasa ini. Itu semua Tuhan anugerahkan hanya karena satu alasan, Dia mau mencintai manusia. Bahkan mau hadir dalam rupa roti yang sangat sederhana untuk menjadi sumber keselamatan kita. Di sinilah pembasuhan kaki menemukan maknanya dalam karya penebusan yang penuh kasih yang terwujud secara nyata dalam Ekaristi yang menjadi santapan keselamatan kita manusia. (by.F.Matius Sudiantoro, SDB)

Seruan Hosana Putera Daun dan Salibkan Dia


PERJALANAN MENUJU KEBANGKITAN DALAM LITURGI PEKAN SUCI



Minggu Palma adalah perayaan meriah. Ini merupakan satu-satunya liturgi yang membacakan dua bacaan dari injil, yang mana isinya sangat kontradiktif. Orang yang sama bisa berubah sikap hanya dalam sepekan terhadap seseorang. Yesus yang dipuja dengan berbagai macam lambaian tangan yang bersorak gembira dengan seruan” Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang dalam nama Tuhan”. Diserukan sebagai raja damai oleh bangsa israel dengan mengendarai keledai, mereka melambaikan daun zaitun memang merupakan simbol perdamaian pada saat itu. 

Tapi siapa menyangka rakyat yang sama akan berseru terhadap orang yang sama dengan penuh kebencian dengan berteriak: “salibkan Dia”. Dan benar orang yang mereka puja ini sungguh disalibkan. Memang menjadi raja damai perlu pengorbanan dan itulah yang telah dilakukan Yesus, yang kita dengarkan dan renungkan dalam kisah injil dalam minggu Palma. Hendaknya kita merenungkan dan meresapinya dalam kehidupan kita supaya makin mencintai Juruselamat kita.

Sering kali kita memperlakukan orang lain seperti kelakuan orang Yahudi memuji-muji teman kita pada  saat kita membutuhkan dia, tetapi kemudian bisa berteriak salibkan dia setelah kita tidak perlu dengan orang tersebut. Atau sebaliknya justru kita yang mengalami seperti Yesus mendapat berbagia pujian dan akhirnya merasa dan mengalami seperti disalibkan. Kalau anda mengalami bersyukurlah karena kita murid Kristus akan mengalami hal yang kurang lebih sama dengan sang Guru kita. Pengalaman seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari meski tidak sedahsyat yang dialami oleh Yesus sendiri. Demi cintanya yang total kepada kita manusia yang sreing tidak mengerti juga bahwa kita ini dicintai dengan cinta yang tanpa batas.

anak yaim piatu di Thailand sedang membuang sampah
Dengan sengaja atau tidak kita juga sering berlaku seperti orang Yahudi dalam memperlakukan sesama. Wujud nyata pertobatan kita dengan merenungkan tema APP: “makin beriman, makin bersaudara, makin berbela rasa”. Seharusnya membantu kita untuk tidak berlaku seperti itu. Memuji orang setinggi langit ketika sedang butuh dan mencampakannya seperti kita berteriak salibkan dia jika orang itu sudah tidak kita butuhkan. Problemnya kita sering melakukan ini tanpa sadar karena sudah menjadi kebiasaan buruk dalam kehidupan. Inilah yang harus kita coba tanpa henti untuk menghilangkannya.

Semoga pekan Suci ini menjadi kesempatan bagi kita untuk retret dalam masa yang penuh rahmat dan bisa membaharui diri dan hidup kita. Supaya kita diberi keberanian dan kerelaan hati untuk bertindak seperti Yesus yang tetap bisa mencintai meskipun Dia sendiri dalam pnderitaan dan penghinaan yang sangat parah. Dia tetap bisa menghibur para wanita yerusalem, menyembuhkan orang yang telinganya dipotong oleh Petrus, mendokan orang yang menyalibkan Dia. Kita biasanya kalau sudah menderita sedikit, merasa sudah seperti akhir zaman tak bisa menolong sesama lagi. Seolah kita adalah orang yang paling sengsara dalam kehidupan kita. (by.F.Matius Sudiantoro, SDB)